Terjepit di antara si posesif dan si obsesif

Pacar BL, itu predikat yang kusandang setelah pesta ‘ultahku’ yang menghebohkan hampir dua bulan yang lalu. Orang-orang bilang begitu karena konglomerat hipersex sadomasokis eksibisionis itu tidak pernah tampil di depan umum dengan cewek yang sama lebih dari dua kali. Meski begitu aku sama sekali tidak bangga. Aku malah makin benci padanya. Memang, kelihatannya dia lebih baik dari dulu, menghujaniku dengan barang-barang mewah, mengajakku bepergian hingga keluar negeri – entah bagaimana caranya dia mengurus pasporku – tapi sebenarnya perlakuannya semakin buruk. Aku harus melayani nafsu seksnya yang tidak kenal waktu dan tempat. Aku pernah digauli di dalam mobil di halaman parkir mal mewah di kawasan Senayan. Pasukan pengawalnya berdiri mengitari mobil Jaguar goyangnya. Mereka merokok sambil sesekali melirik kami. Pernah juga aku disodomi di atas meja ruang meeting kantornya yang sepuluh menit lagi akan dipakai untuk rapat dengan rombongan pejabat dari departemen pajak. Menggumuliku di balik semak-semak lapangan golf di sebuah country club di pinggiran London juga pernah dilakukannya. Petugas sekuriti yang ingin menegur kami dihadang Aheng dan anak buahnya. BL selalu bisa memaksaku menuruti kemauannya. Kadang aku dibuatnya mabuk hingga tak sadarkan diri, kadang dia mencumbuku dengan ganas sampai aku ikut panas. Tapi lebih sering dia sengaja memancing amarahku hingga aku mengamuk, ujung-ujungnya kami bergulat dan diakhiri dengan luberan cairan hangat dari selangkangan masing-masing. Dari semua pengalaman gila itu, yang paling kubenci saat aku harus mengoralnya di kolong meja restoran di sebuah hotel miliknya di kawasan Mangga Dua. Restoran itu sedang ramai-ramainya dan di meja sebelah duduk rombongan keluarga teman baik papa lengkap beserta cucunya yang masih balita yang juga putri baptisku. Tapi BL terus memaksaku. Dia mengancam saat itu juga akan menjadikanku sashimi girl di depan semua tamu bila aku menolak permintaannya. Dan bila aku nekat menggigit penisnya, dia akan menindik klentitku. Aku malu sekali saat mendengar putri baptisku yang cerdas terus bertanya pada semua orang, ke mana perginya tante yang tadi duduk di meja sebelah. Aku tahu BL tidak main-main dengan ancamannya. Di perutku bagian bawah, persisnya di atas klentitku ada tato penis ngaceng seukuran tiga sentimeter yang dibuat di Belanda sebagai hukuman karena aku menolak melayaninya di bangku taman umum. Aku tak akan pernah bisa melupakan rasa sakit dan malu waktu ditato. Aku yang tak rela kulitku dinodai terus meronta sampai kedua tangan kakiku terpaksa diikat kuat. Untung jarum yang digunakan masih baru jadi aku tidak takut tertular penyakit berbahaya. BL yang membelinya khusus untuk mentatoku. Aku jadi was-was tiap kali BL membawaku keluar rumah. Berdiam di dalam rumah juga tidak menyenangkan. Aku bosan berdiam dalam kamar mewah bernuansa putih itu, tapi bila keluar kamar aku pasti bertemu Bandi. Mata psikopat klemer itu selalu memandangku lapar, tapi dia tak pernah bisa mendekatiku karena Aheng menjagaku dengan ketat. Dan sekarang aku duduk sendirian menghadapi meja bundar besar yang muat untuk delapan orang. Aheng berdiri di belakangku seperti anjing penjaga. Di depanku terbentang panggung dengan podium di sisi kiri dan layar lebar di belakangnya. Di belakangku berjajar meja-meja bundar lainnya. Malam ini adalah acara puncak ulang-tahun holding company milik BL. Acara hampir dimulai. Suasana ramai, riuh ocehan dan tawa, tapi aku kesepian. Aku menunduk dan mempermainkan jari-jari di atas pangkuanku. Tak ada yang datang ke mejaku untuk menyapa dan mengajakku berbincang. Aku memang tidak punya teman. Para taipan teman papaku tak sudi memandangku. Di mata mereka aku tak ubahnya ayam kampung yang mendapat durian runtuh. Padahal yang kudapat cuma duri-durinya yang melukaiku. Istri-istri mereka juga ogah bergaul denganku. Paling banter melirikku dengan tatapan menghina. Mereka pikir aku ini cewek pemorot yang dipungut dari got oleh BL. Aku tertawa getir dalam hati. Apa reaksi mereka kalau tahu ternyata darahku sama ‘birunya’ bahkan mungkin lebih ‘biru’ dari mereka? Papa-mamaku adalah generasi ketiga dari keluarga konglomerat terpandang. Aku menghela napas dengan sedih. Kenangan akan kejayaan keluargaku membuatku berduka. Kini semuanya sudah habis. Mungkin benar pepatah yang mengatakan kejayaan bisnis dirintis generasi pertama, dibesarkan generasi kedua dan dihancurkan generasi ketiga. Lalu apa yang diperbuat generasi keempat? Jangankan merebut kembali harta dan memulihkan nama besar keluarga apalagi menuntaskan misi balas dendam. Yang bisa kulakukan hanyalah bertahan hidup dan berjuang keras mempertahankan kewarasanku dengan susah-payah. Aku makin terperosok dalam jurang libido. Tiada hari tanpa seks bersama orang yang paling kubenci sedunia, tapi dari dialah aku mendapat kenikmatan yang membuatku ketagihan. Aku tak ingin hidupku berakhir seperti para simpanan gelap, antara ada dan tiada. Kalau beruntung, bisa dinikahi resmi, kalau tidak ya harus mencari mangsa lain. Aku jauh lebih baik dari ayam yang mendapat promosi menjadi istri kesekian, tapi coba lihat mereka. Mereka memandangku sinis dan iri. Mereka mengecapku cewek sombong yang tidak sadar diri. Tak mau bergaul dengan ayam senasib. Acara akhirnya dimulai dan BL diminta naik ke atas podium. Semua orang berdiri memberi applaus. Aku tetap duduk tak peduli, menatap ke depan pun tidak. Lalu acara dimulai dengan pidato dari orang gila itu. Lampu dimatikan dan diputar film tentang perjalanan hidup Luna Group, kerajaan bisnis keluarga Lukman. Mendadak ada benda dingin menyentuh pergelangan kakiku. Secara reflek aku langsung menendang, tapi kakiku terikat pada kaki kursi. Aku langsung panik apalagi kakiku ditusuk. Sepertinya bukan dengan pisau, tapi jarum. Aku tersentak dan memiawik tertahan. Tapi tak ada yang mendengar jeritanku karena meja yang kutempati agak terpisah dari tamu lainnya selain itu semua mata dan telinga para undangan tertuju pada film yang diputar di layar di atas panggung. Sekujur tubuhku gemetar, panas-dingin. Aku takut setengah mati. Aku tak berani menyingkap taplak meja yang menjuntai ke bawah. Kalau pun berani, aku tak bisa melihat apa-apa karena gelap. Ingin memanggil Aheng, tapi gorila itu tidak berdiri di belakangku lagi. Dia menyingkir ke samping panggung karena tidak ingin menghalangi pandangan undangan lainnya. Sedangkan BL masih berdiri di atas panggung sambil memandangi film tentang profil keluarga dan dirinya dengan sorot mata bangga. Dalam waktu singkat tubuhku sekaku kayu. Sekarang aku malah tak bisa bersuara sama sekali. Lidahku kelu. Hanya bola mataku yang masih bisa bergerak ke sana-kemari. Aku pasti diracun. Aku makin ngeri setelah benda dingin itu kembali menyentuhku. Mulanya dari betis dan merambat ke atas, terus ke atas hingga ke selangkanganku. Sepertinya tangan seseorang karena tak lama kemudian celana dalamku tersingkap. Oh my God! Siapa lagi kalau bukan Bandi! Seingatku Bandi masih berada di rumah saat kami pergi. BL memang tak mengijinkan kembarannya yang psikopat itu pergi ke acara-acara resmi seperti ini. Lalu bagaimana si klemer gila itu bisa berada di kolong mejaku? Apa ini rencana BL juga? Kalau tidak, bagaimana kalau kenekatan Bandi ketahuan? Apa kata para tamu? Nafasku memburu saat jari-jari dingin itu menggosok klentitku, sesekali mengucek kedua bibir mulut bawahku. Sensasi yang ditimbulkan rasa ngeri bercampur tegang membuat mem*kku becek. Aku menahan napas ketika jari-jari dingin itu menerobos masuk liang vaginaku. Belum lagi gigitan-gigitan kecil yang menyerang paha dalam dan klentitku. Gawat, klimaks itu terasa makin dekat! Celaka, film sudah selesai dan lampu kembali dinyalakan. BL menatapku sekilas lalu kembali berpidato. Aku tak bisa mendengar dengan jelas apa yang diucapkannya sehingga membuat orang lain tertawa. Pandangan mataku bahkan mulai buram. Konsentrasiku tertuju pada alat vitalku yang dihujani serangan-serangan membabibuta. Yang kulakukan hanyalah terengah-engah menahan orgasme yang ingin meledak. Hhhgghh! Tubuhku menggeletar perlahan seiring cairan vagina yang meluber keluar yang langsung diseruput Bandi. Aku bisa merasakan lidah dan bibir Bandi menyeruput cairan vaginaku dengan buas. Akhirnya dilepaskannya juga mem*kku. Belum sempat bernapas lega, serangan mulai kembali. Kali ini sesuatu yang menggeliat-geliat dingin berlendir menyentuh kakiku. Aku langsung merinding ketakutan. Ular? Pada saat yang sama para hadirin bertepuk tangan dan BL turun dari panggung menghampiri mejaku. Air mata sudah mengembeng di mataku. Benda yang kuyakin bukan jari manusia itu terus bergerak-gerak liar dan kini sudah menempel di mulut vaginaku dan terus mengebor masuk. “Kau ini memang keras kepala deh. Apa kau nggak bisa menghormatiku sedikit? Ayo bangun dan salami aku,” bisik BL. Untuk apa? Tapi suaraku tidak keluar. Kepala atau ekor ular itu kini sudah masuk ke dalam kelaminku, mengucek-ngucek G-spotku. Aku lebih ngeri dan jijik daripada nikmat. Tanpa bisa kutahan, aku ngompol. Kucoba memberitahu BL dengan tatapan mata. Tapi sepertinya dia tidak tahu atau pura-pura tidak tahu kalau aku begitu tersiksa. “Sudahlah, nangisnya nanti saja. Aktingmu terlalu berlebihan,” tukas BL sambil menarik tanganku. Dia baru sadar kalau ada yang tak beres padaku setelah menggenggam tanganku yang kaku. Dia menatapku dengan seksama. Aku melirik ke bawah meja. Dengan sekali singkap dia membuka taplak dan terlihatlah pemandangan yang mengerikan. Bandi dengan senter terikat di kepalanya, duduk di lantai menghadap kakiku yang terbuka. Gaun miniku tersingkap memamerkan pahaku dan di sela-sela kakiku ada ular hitam kecil yang bergerak-gerak. Kepala ular yang mendesis-desis ada dalam genggaman tangan Bandi. “Surprise,” ujar Bandi cekikikan. Air mataku bercucuran tak bisa kutahan lagi membuatku tak bisa melihat seperti apa ekspresi di wajah BL. Yang jelas dia langsung mencabut ekor ular itu dan menarikku berdiri. GUBRAK! Bukannya berdiri aku malah oleng terjatuh. Ternyata kedua pergelangan kakiku terborgol pada kaki kursi. Akibatnya meja terbalik. Kegaduhan pun terjadi. “Ular!! Ada ularrr!! Tolong!!” Yang berteriak bukan aku, karena aku masih sekaku mayat. Tapi perempuan lain yang dilempar ular oleh Bandi. Terjadi kekacauan yang superrusuh. Para hadirin berlarian ke sana-kemari. Ada yang naik ke atas meja atau kursi. Yang lainnya berebut keluar ruangan. Tapi ada juga yang berusaha memamerkan keberanian dengan berusaha membunuh dan menangkap ular malang itu dengan cara menimpuki ular malang itu dengan gelas. Aku ini sinting. Masih sempat-sempatnya bersimpati pada ular yang sudah menyetubuhiku. Tapi aku yakin ular itu juga menderita karena dipaksa oleh Bandi. Aku yang sudah lemas hanya bisa pasrah. Rasanya ingin mati atau lebih baik tidak usah dilahirkan saja. Mereka semua pasti membicarakan dan menertawakanku. Benar-benar memalukan. Dikawinkan dengan ular oleh orang gila sampai mengompol. Aku terus menangis tanpa suara. Sampai tak sadar bagaimana tiba-tiba aku bisa berada dalam gendongan Aheng. Ke mana BL? Menangkap kembarannya? Yang membuatku sedikit terhibur, gorila itu terus meminta maaf padaku. Dia merasa bersalah karena tidak memeriksa kolong meja terlebih dulu. Aku menangis sampai tertidur. Aku baru terbangun setelah beberapa gadis berseragam putih memintaku berganti pakaian. Ternyata aku dibawa ke rumah sakit. Sekitar dua jam kemudian tubuhku sudah kembali normal. Aku menjalani berbagai tes dan dianjurkan menginap semalam di sana. Aheng yang terus menemaniku dan BL baru muncul malam harinya. Aku yang duduk di atas ranjang sembari melamunkan nasibku yang malang, tidak sadar kalau dia sudah datang. Tiba-tiba saja dia memelukku. Otomatis aku histeris. Aku meronta dan berteriak minta tolong sekuat tenaga. Suster dan dokter berhamburan datang bersama Aheng, tapi BL mengusir mereka semua. Dia berusaha menyadarkanku namun aku tak juga berhenti meronta dan berteriak. Tak kupedulikan penjelasannya kalau dia adalah BL bukan Bandi. Meski wajah mereka sama, aku tahu dia BL bukan setan mengerikan itu, tapi aku yang begitu trauma tak bisa lagi mengendalikan diriku. PLAK! Kepalaku terayun ke belakang dengan kuat hingga telingaku berdenging dan mataku berkunang-kunang. Sontak aku terdiam. Aku begitu terkejut karena selama ini BL tidak pernah sekalipun memukulku. Tapi aku beringsut menjauh saat kedua tangannya menangkap wajahku. “Ini aku.” Aku kembali gemetar ketakutan melihat seraut wajah tirus dengan sepasang mata berjauhan dan hidung mencuat. Karisma memancar dari wajah angkuh di hadapanku, tapi bayang-bayang cengiran sinting kembarannya tak juga bisa terhapus dari ingatanku. Aku pun ngompol lagi. BL menunduk melihat selimut dan gaunku yang basah berbau pesing. Keningnya sedikit berkerut lalu dia memandangku dengan tatapan yang sulit dijelaskan. “Heng!!” Lagi-lagi Aheng yang disuruh kerja kotor. Tapi aku malah senang melihat gorila itu datang. Berduaan bersama BL membuatku takut. Di luar dugaan BL tiba-tiba menggendongku sambil memintaku jangan panik supaya aku tidak jatuh. Aheng tanpa disuruh langsung melepas seprai dan mencopot kasur. Ternyata si ceking ini kuat juga. Dia bisa membawaku ke kamar mandi dengan langkah mantap. Kamar mandi pasien VVIP ini dilengkapi bathtub. Sementara bathtub diisi dengan air hangat, dia menelanjangiku dan mendudukkanku di kloset. “Jangan takut. Aku nggak marah.” Astaga! Bisa-bisanya dia bilang begitu? Bagaimana dengan perasaanku? Seharusnya aku yang marah setelah selama ini menerima siksaan darinya dan juga kembarannya yang gila itu. Dia sendiri juga gila. Buktinya sekarang dia ikut telanjang dan jongkok di depanku. Tapi aku tak bisa marah karena perasaanku kacau-balau dan aku terlalu lelah. Jadi aku hanya bertanya lirih, “Lalu apa? Apa kau mau memukulku lagi?” “Aku kan sudah bilang kalau aku nggak marah,” jawabnya sambil meregangkan pahaku. “Seharusnya sejak dulu kau bunuh aku saja,” sahutku sambil mengatupkan pahaku. “Kenapa begitu?” “Karena aku ingin membunuhmu.” “Ah, akhirnya kau mengaku juga.” Lalu meluncurlah kisah Pamela Rachel Tanuseja yang datang ke Sanctuary dengan nama samaran Lara Tan. Misinya hanya satu, membunuh Budi Lukman yang sudah membunuh papanya dengan cara membakarnya. Ngerinya, cerita ini keluar dari mulut BL bukan mulutku yang ternganga lebar. Bahkan dia bisa menggambarkan dengan rinci rencanaku membunuhnya dengan senjata Flamming Ferarris dan geretan. Jantungku serasa tenggelam ke dasar perut. Tubuhku lemas sampai hampir terguling jatuh dari kloset kalau tidak dipegangi olehnya. “Kau pikir aku membiarkan orang yang tak jelas asal-usulnya tinggal di rumahku selama itu? Tadinya aku mau membunuhmu, tapi…” “Menyiksaku lebih menyenangkan?” tukasku serak dengan nada mengambang. BL tersenyum sambil meremas-remas payudaraku. “Kadang kau pintar, tapi lebih sering goblok. Kau nggak akan berhasil membunuhku dengan cara bodoh seperti itu.” “Kalau kau sudah tahu semuanya, kenapa nggak bunuh aku saja?” tanyaku gemetar. BL tidak langsung menjawab. Dibenamkannya wajahnya ke belahan dadaku. Dikulum dan digigitnya kedua putingku dengan gemas hingga aku meringis kesakitan. “Karena kau membuatku ketagihan untuk terus mengent*timu.” Aku terbengong. Jawaban macam apa itu? Aku memang tidak berharap dia menjawab kalau dia jatuh cinta padaku. Orang seperti dia hanya mencintai dirinya sendiri dan aku pun tak mau dicintainya. Tapi… Aku berjengit saat tangannya melebarkan pahaku dengan paksa dan menyentuh kelaminku. “Jangan,” larangku sembari berusaha mengelak. “Aku mau lihat apa mem*kmu baik-baik saja.” “Nggak usah pura-pura peduli. Kau cuma kepingin mengent*tiku la…gi…Aaaah… Su…sudah… jang…aaaaah….” Bl tidak menjawab, melainkan mencebokiku. Aku mencobanya memintanya berhenti karena kucekan jari-jarinya mengingatkanku pada kucekan jari-jari Bandi beberapa jam yang lalu. Tapi dia tidak mendengarkanku malah mulai menjilati klentitku. Kugigit bibirku sembari memejamkan mata. Déjà vu. Rasanya aneh, dijilati sepasang kembar dalam hari yang sama. Dan seperti tadi, napasku kembali memburu menandakan nafsuku mulai bangkit. Padahal hatiku menolak rangsangan ini. Sebelum aku mencapai klimaks, BL menarikku berdiri dan pindah ke bathtub. Di sana dia menyanggamaku dalam posisi memangkuku. Awalnya aku meronta. Rasa takut karena diperkosa ular kembali menyerangku. Aku meringis, mengernyit, menunjukkan rasa tak nyaman. Dia berhenti bergerak. “Yang mana yang sakit?” Semuanya. Hatiku, jiwaku, tubuhku. Seharusnya aku bilang begitu, tapi lidahku kelu. Karena aku diam, BL kembali menggenjotku. Rasa tak nyaman tadi perlahan mulai menghilang, tergantikan rasa nikmat. “Lihat aku,” tukasnya sambil menepuk pipiku. Aku yang sejak tadi memejamkan mata karena tak ingin melihat wajahnya, menggeleng. Dia mengulang permintaannya sembari memelintir putingku dan menjambak rambutku. Sakit, tapi aku bergeming. “Mel, lihat aku!” bentaknya lagi. Kali ini kubuka mata dengan lebar. Aku terkejut mendengarnya memanggilku dengan nama kecilku. “Kau milikku,” ujarnya tegas. Matanya menatap mataku dalam-dalam seperti sedang mencari mutiara jatuh di dasar kolam. Aku menggeleng. Tapi dia terus bilang begitu sambil menghentak-hentakkan pantatnya. Gelenganku berubah menjadi anggukan seiring guncangan tubuhku. “Ngghhhh…. Aaaaaaahhh!!” Aku berteriak lepas. Lupa kalau sekarang aku berada di rumah sakit. Bukannya membekap mulutku, BL malah terus menggenjotku sambil melumat dua gunung kembarku bergantian. Tangannya meremas pantatku dan satu jarinya menyelip masuk anusku. Dirangsang bertubi-tubi seperti itu, aku makin panas. “Ooooh….Ooooh… Yeeess…. Ngaaaaaaaaaaaah!!!” Pada saat yang sama, BL menggeram panjang. Semburan-semburan hangat mengisi rahimku membuatku sedikit terlonjak. Rasanya enak, tapi aku malah menangis. Tidak sampai tersedu, hanya terisak tanpa suara. Aku sedih memikirkan segala pengorbanan besar yang kulakukan demi kesia-siaan. Aku menunduk menyembunyikan wajahku namun BL mengangkat daguku. Saat kuberpaling, dia meluruskan wajahku. Dipandanginya mataku yang membanjir dengan penuh minat. “Senang melihatku begini?” semburku kesal setengah sesenggukan. Dia diam saja. Tangannya mengelus-elus pantatku. Omelanku lama-lama berubah menjadi permohonan memelas. “Kalau kau nggak mau membunuhku, bebaskan aku saja. Biarkan aku pergi. Aku nggak akan mengadu ke polisi atau ke wartawan atau ke siapapun. Kau sendiri selalu bilang aku jelek. Kau bisa mencari cewek yang lebih cantik, lebih muda dan lebih penurut dariku.” Dia tetap diam. “Akan kubayar hutangku. Di luar aku masih punya tabungan. Aku janji. Please, kumohon jangan diam saja. Aku nggak mau menghabiskan sisa hidupku begini. Aku ini manusia, bukan barang koleksi yang nantinya kau buang karena kau sudah bosan.” Lama-lama aku mengemis-ngemis minta belas kasihannya bahkan merendahkan diriku dengan memanggilnya Tuan, tapi wajahnya tetap menunjukkan ekspresi yang sama. Tangannya malah mulai merambah payudaraku lagi. Dia memang tidak punya hati. Akhirnya aku diam, menyerah dalam keputusasaan. Tiap kali tanganku ingin mengusap mataku yang basah atau hidungku yang ingusan, ditahannya. Dia terus memandangiku sampai aku berhenti menangis baru memandikanku. Kami saling diam. Malam itu juga kami pulang ke rumahnya. Aku tahu dia sengaja membawaku pulang tengah malam agar tidak dirubung wartawan. Memang, ada wartawan yang mencegat kami di halaman parkir, tapi jumlahnya hanya empat-lima orang. Tak sebanding dengan pengawal BL yang dua puluhan orang. Aku ingin sekali berteriak minta tolong atau selamatkan aku atau bawa aku pergi. Aku tidak sanggup harus tinggal serumah dengan dua orang gila, tapi aku terlalu lelah dan sudah setengah tertidur. Aku bahkan tidak tahu kapan aku tiba di rumah BL. Aku kembali menjalani rutinitas sebagai pemuas nafsu BL. Tapi nafsuku sendiri makin menurun. Bukan cuma nafsu seks yang menyurut, tapi juga nafsu makan dan nafsu marah. Aku makin kurus dan murung. Tak mau keluar kamar karena takut bertemu Bandi dan hanya meringkuk di atas ranjang. Untungnya BL tidak memaksaku keluar rumah untuk membuat sex show di mana-mana lagi. Mungkin dia malu terlihat denganku di depan umum. “Baiklah. Kau menang. Aku akan minta Bandi keluar dari sini,” ujarnya setelah hampir gagal membuatku orgasme padahal dia sudah ejakulasi. Dia sangat bangga bila berhasil membuatku kelojotan sampai melolong-lolong. “Kenapa bukan aku saja yang keluar dari sini? Aku kan bukan apa-apamu,” sahutku lelah. Tapi sejak kapan dia mendengarkanku? Saat itu juga dia bicara dengan kembarannya. Bandi marah sekali. Dia pasti tidak terima diusir keluar dari rumah demi aku. Aku bisa mendengar dua saudara itu ribut bertengkar. Aheng yang menemaniku dalam kamar sampai menggeleng-geleng. Mendadak terdengar letusan pistol. Lima kali. Lalu hening. Aku dan Aheng saling pandang dengan cemas. Gorila itu bersiaga saat pintu kamar dibuka. “Ayo keluar, Mel. Jangan takut. Dia sudah pergi.” Aku dan Aheng terpaku melihat Bandi yang berdiri di depan pintu dengan pistol teracung ke arah kami. Tubuhku gemetar dan celanaku kembali basah. Aheng bergeser perlahan untuk menutupiku dari pandangan Bandi. DOR! Aku menjerit histeris melihat gorila bopeng itu tumbang di depan mataku dengan dahi bolong. Biarpun selama ini Aheng sering membantu majikannya menyiksaku, tapi dia teman yang cukup baik. Tahu kapan harus bicara atau membiarkanku menangis sendirian dalam gelap. Bandi mendekat. Cengiran gembira terukir di bibirnya. “Kau milikku, Sayang.” Aku melompat turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi, tapi dia lebih cepat. Tiba-tiba dia sudah menangkap tanganku dan menariknya ke dalam pelukannya. Aku menangis ketakutan sambil meronta-ronta. “Ssssh, tenang dong, Sayang.” PLAK. PLAK. DUK. Dua gamparan keras di pipi dan tonjokan di hidung membuat tangis dan rontaanku mereda. Namun aku nyaris tak bisa bernapas karena rongga hidungku dipenuhi darah segar. Kepalaku berkunang-kunang. Aku tak bisa melawan saat dia menyeretku keluar kamar. Aku terkesiap melihat empat pengawal BL mati bergelimpangan dan BL sendiri terduduk bersandarkan dinding. Tubuhnya bersimbah darah. Wajahnya pucat. Darah mengalir deras dari dadanya. Tapi dia masih bisa mendelik melihatku jatuh ke tangan kembarannya. “Dari dulu kau benci dia sampai ingin membunuhnya kan, Mel?” tukas Bandi sebelum melumat bibirku. Kudengar BL menggeram marah dan mencoba bangun, tapi sebuah tendangan Bandi di kepalanya membuatnya roboh. Untuk pertama kalinya aku berharap BL tidak mati. Dia seperti malaikat bila dibandingkan Bandi. Si klemer itu sekarang memukuliku sembari menelanjangiku di depan kembarannya. “Jangan… Tolong…,” teriakku lemah. Tapi tidak ada yang berani menolongku. Anak buah yang tersisa tak berani mengganggu kegilaan Bandi apalagi BL sudah mati. “Aaah….sakit…,” erangku saat Bandi merentangkan kakiku selebar mungkin hingga membentuk huruf V. Dicengkeram dan ditekannya kedua pergelangan kakiku hingga menempel lantai dan dia mulai menggenjotku. Dia memerkosa mem*k dan anusku bergantian. Tiap lima sodok dia berpindah tempat. Aku hanya bisa menangis sambil menggeleng-geleng untuk meredakan rasa sakit di sekujur tubuhku. Aku juga jijik. Tidak seperti BL yang selalu memakai kondom bila ingin menyodomiku, Bandi tidak memakai apa-apa. “Kau miliku. Kau milikku,” begitu ujarnya tiap kali menyodokku. Tiba-tiba Bandi mencabut kont*lnya dan menaiki tubuhku yang masih terlipat. “Buka mulut, Sayang,” ujarnya mesra sembari menampari pipiku. Karena mulutku tetap terkatup, dia menjepit hidungku yang patah dengan kuat. Belum sempat aku menjerit kesakitan, kont*lnya pun masuk. Bandi memaju-mundurkan pantatnya seakan mulutku itu liang vagina atau anus. Aku hampir mati lemas karena kehabisan oksigen. CROT.CROT.CROT. Bandi tertawa puas melihatku memuntahkan sperma dan isi perutku. Kemudian dia menjambak rambutku dan menyeretnya ke kamarnya. Aku sudah setengah tak sadar saat dia mengangkat dan membaringkan tubuhku di atas ranjang keras atau mungkin juga meja. Kedua tangan dan kakiku terentang lebar dan diikat. Aku tersentak saat dia menyuntikku dengan obat misterius. Jangan-jangan tubuhku kaku lagi, tapi belum lima menit aku sudah merasa panas dan berdebar-debar. Bandi menggunduli rambutku dengan pisau cukur. Kemudian dia mengeluarkan tali panjang dan mulai mengikatnya di seluruh tubuhku. Melihat bondage di majalah sudah ngeri apalagi mengalaminya sendiri. Gilanya, tiap kali Bandi menyentuh, membalik dan memutar tubuhku, aku malah mengerang nikmat bukannya mengerang kesakitan. Rupanya yang disuntiknya tadi obat perangsang. “Ah, akhirnya selesai juga. Waduh, kau sudah banjir, Sayang,” ujar Bandi sambil mencolek mem*kku yang basah kuyup. Aku mengerang makin keras saat lima jarinya mengocok mem*kku sekaligus. Pada saat aku berteriak, sebuah benda dicokokkan ke mulutku dengan paksa hingga bibirku berdarah. Aku terkejut saat menyadari ring gag sudah terpasang sehingga aku tidak bisa mengatupkan mulut. Bandi mengikat sabuk ring gag di belakang kepalaku dengan erat. Dia masih mengeluarkan beberapa alat lagi yang membuatku merinding. Dua dildo besar yang kemudian dihujamkan ke dalam mem*k dan anusku yang becek. “Aaah…,” erangku nikmat saat Bandi mendorong kedua alat itu sedalam mungkin. “Rrrrrrr.” Bandi langsung menyetel dua dildo itu dengan kecepatan maksimum. Dia bertepuk tangan melihatku menggelinjang liar. Rasa nikmat mengalahkan rasa pedih akibat kulitku teriris tali tambang. Lalu dia mengambil posisi di atas kepalaku. Dia menarik kepalaku yang gundul hingga tergantung lepas dan mulai memerkosa mulutku hingga ke pangkal tenggorokan. Aku tersedak, terbatuk, tapi dia terus menghentak-hentakkan pantatnya. Saat dia ejakulasi, aku sudah mengalami belasan orgasme, tapi tak kunjung lemas juga. Dia melepaskan ikatan pada kedua tangan dan kakiku lalu memakaikan rantai anjing di leherku. Aku hampir terjungkal jatuh saat dia menarik rantai. Dia menyuruhku merangkak seperti anjing. Sesekali dia menaikiku dan menyuruhku terus berjalan sembari memukuli pantatku dan mencubiti pentilku. Kemudian dia mengambil dua buah lilin panjang. Dinyalakannya dan ditusukkan dasar dicolokkannya kedua batang lilin itu ke anus dan vaginaku. Untung saja bukan ujung yang menyala. Dia tertawa tergelak-gelak melihat dua batang lilin menyala begerak naik turun sementara aku merangkak mengitari ruangan. Gilanya, kont*lnya dengan cepat mengembang lagi. Aku merasa lega bercampur was-was saat kedua batang lilin itu dicabut. Aku takut dia akan memutar balik ujung lilin dan kembali menusukkannya ke dalam alat vital dan liiang duburku. Ternyata dia memilih menyodomiku. “Aaaaah! Aaaaah!” Aku berteriak seiring tetes-tetes lilin panas yang menghujani punggungku. Tiap kali aku merunduk karena menahan sakit, dia menarik rantai di leherku hingga aku tercekik. Rupanya efek obat perangsang mulai habis karena aku merasakan sakit yang luar biasa di sekujur tubuhku. Kulitku terasa panas dan perih. Mulutku seperti sobek dan selangkanganku linu. Begitu pula lututku. Tapi dia belum berhenti mengerjaiku. Kali ini disuruhnya aku mengejar bola sembari merangkak seperti anjing. Bila kurang gesit dia melecutku dengan pecut bercabang tiga. Akhirnya aku ambruk. Tak mampu bergerak lagi meski dia melecutku dan menarik rantai yang terikat di leherku dengan keras. Lebih baik aku mati saja daripada terus disiksa seperti ini. “Kenapa, Sayang? Haus? Mau minum?” Dia memasukkan kont*lnya ke dalam mulutku yang terbuka. “Aarr! Aaaghh!” Aku kelabakan merasakan air seninya mengisi rongga mulutku. Bandi sendiri tertawa-tawa. Setelah puas mengencingiku, dia menggigiti payudaraku yang menonjol karena di-bondage dengan keras hingga aku menangis kesakitan. “Kau lebih seksi kalau sedang nangis.” Aku tak kuat lagi untuk membuka mata. Tubuhku seperti boneka rusak yang terus dipermainkan Bandi. Aku hanya bisa pasrah saat dia menyodok mem*kku dengan suatu benda dingin yang keras. Aku merintih tanpa suara ketika benda itu membenggangkan liang vaginaku dengan paksa. Pasti speculum. Aku tak tahu dan tidak mau tahu apa yang diperbuat Bandi terhadap tubuhku. Gelombang rasa sakit yang mendera tak bisa kuterima lagi. Aku merasa dingin. Dimulai dari ujung kakiku dan merambat naik. Sekarang kedua tanganku juga dingin. Mungkin maut sudah menjemputku. Aku bisa merasakan rasa sakit itu mulai menjauh. Astaga! Aku bisa melihat tubuhku sendiri. Bandi masih berkutat dengan selangkanganku yang mengalirkan darah. Aku sedih melihat tubuhku, tapi senang karena sudah terbebas dari segala siksaan. Sekarang aku menunggu. Siapa yang akan menjemputku dan ke mana aku pergi? Surga atau neraka? Apa papa yang akan datang? Atau mama? Jangan-jangan malah Aheng atau BL. Aduh, aku tidak mau bertemu mereka lagi. Aku menunggu, tapi tak ada yang datang. Malah semuanya kini gelap. Aku ketakutan. Aku tidak mau ditinggal sendirian dalam kegelapan tak berujung. Aku berdoa dan memanggil semua kerabat yang sudah mendahuluiku. Tapi aku tetap sendirian. Akhirnya aku melihat cahaya. Tapi pada saat yang bersamaan rasa sakit itu kembali lagi. “Huwaaaagghh!!!” Dadaku terasa sakit setengah mati. Samar-samar kudengar teriakan yang makin lama makin jelas. “Dia hidup! Dia masih hidup!”

Leave a Reply